Minggu, 28 Desember 2014

Senandung subuh

Kemana perginya suara merdu itu
Ayat-ayat Al-Quran disubuh
Yang kudengar begitu menawan
Seperti kamu kukenal dahulu

Senandung subuh yang ku nanti
Tapi telah mati oleh dinginnya
Embun pagi kota ini
Kali ini hanya ada bising bernyanyi

Bangunkan aku disubuh itu (lagi)
Bersama senandungmu
Yang membuatku menari-nari
Bergejolak dalam sepi

Aku bosan bernyanyi
Bersyair liar tapi tak ada yang tahu
Aku bosan menari
Berelok tak terarah tanpamu

Bangunkan aku lagi
Dengan dinginnya embun Subuh
Bersama senandungmu
Yang menusuk sunyi hatiku

Senandungmu
Mengalirkan darahmu kedalam bait jiwaku
Dalam doa resahku, rindu yang keras kepala
Di telinga ini, kekalkan senandungmu
Di Nadiku

Dinding kamarku lembab

Seminggu lembab kedinginan
Dinding kamarku yang hiruk pikuk
Suara nyamuk nakal
Mengoceh meminta darah

Apa daya darahku terhisap pula
Seperti senyumanmu pagi itu
Tak perlu kau tahu
Jika di garis-garis tanganku
Engkaulah doa paling biru

Doa ini tak pernah terhalang apapun
Walaupun gelap malam
Kau tak menyapaku
Kusandarkan dinginnya jiwaku
Didinding kamar merapat jemarimu
Melosotkan embun kepelukan doaku

Aku ingin bicara sepatah dua kata
Hanya berdua didepan teras
Aku lelah menikmati senyummu
Setiap malam yang dingin
Tapi kau tak tahu, bahwa
Tubuh ini merikuk gemetaran

Masuklah ke dalam nadiku
Rasakan getaran darahku
Yang mengalir kegirangan
Dikala jiwamu menusuk hati ini

Dikegelapan malam
Ku coba menerobos dinding kamar
Untuk menepikan hatiku
Yang mematung kesepian

Lihatlah dinding itu
Berembun kedinginan
Lembab kesepian
Terpatung kesakitan
Tersandar juwita malam
Melekuk terisak rembulan

Minggu, 09 November 2014

Sang Bayangan. Itu Aku

Duduk manja berdua bercengkrama
Di ruang rindu bersama kekasihmu
Tersipu aku tak tahu
Jika hati mingikis relungnya

Dipangkuan rindu ini
Aku tersenyum menyendiri
Menangis merona dibelakang
Bayang bayang sepasang jiwa

Yang mengikat kasih dangan hati
Tak tahukah kalian
Aku berduka dalam tawa
Bertopeng setebal baja
Menahan asa yang mengepul

Ajak aku berdiri bersama jiwamu
Cinta
Berdua saja, tak ada dia
Tertawa bersama tangisku
Memeluk butiran dihatiku

Memastikan topeng ini terjatuh
Lihatlah wajah penyair rindu
Yang mematung dalam cinta
Disudut hatimu

Selasa, 09 September 2014

Diseberang pulau itu!

Kumis tipis diatas bibir merahmu
Menghanyutkan potongan-potongan jiwaku
Tiupan angin melambaikan hitam panjang rambutmu
Menguraikan Kumpulan darah hitam kelabu

Sihir disinar senyummu
Menghangatkan tubuhku dikedinginan
Diatas puncak gunung

Sayang sekali aku masih kedinginan
Karena tak ada matahari
Dilekukan kebekuan hatiku
Sang mentari dibibir tipismu
Tertutup kabut, gelap!

Aku berharap ada tangan gagah
Meraih jiwa kosong dikelelahan
Setiap trek gunung yang kulampaui

Dimana sosok bayanganmu?
Hilangkah oleh kabut sore ini?

Aku gagal berdiri diatas awan bersamamu
Berharap dibawah sana
Sosokmu menantiku penuh kehangatan
Meraih jemariku
Merangkul kelelahanku

Lagi! Kamu hanya menyapa
Dengan senyuman andalanmu
Hingga meluapkan aliran darahku
Andai kau merangkul pundakku
Menghapus ribuan keringat ini

Tapi, hanya ada lima jari menyapaku
Kemudian menyinari hatiku
Lewat kerumunan sinar senyummu

Terimakasih
Ribuan keringatku, terhapus!
Walau separuh

Untuk pria berkumis tipis, berambut hitam sebahu di seberang pulau. Terimakasih :) A.R.W

Sabtu, 09 Agustus 2014

Merpati Menanti

Jantung ku kembali berdetak kencang
Saat bait-bait katamu menyapa
Kesunyian jiwa yg hampir membeku

Telah lama ku menunggu diujung senja
Tanpa jawaban dan pertanyaan
Mengapa harus menunggu?
Kenapa terus membisu?

Enam bulan berlalu dengan kebisuan
Dan entah kenapa ramai hati meronta
Apa masih ada rasa? Atau tersiksa

Aku terus menunggu merpati itu kembali
Menyapa lewat sayap-sayap putih
Duduk termenung diujung patahan rindu
Tak bertepi

Sang merpati membawa mawar merah
Dihadapan jiwa yg terbisu
Menganga hati yg kosong

Perlahan aku beranjak pergi
Sang merpati tak membawakan mawar itu
Dihadapan rona jiwa merana
Ia hanya terbang melintas menyapa kebekuan
Kemudian terbang tinggi
Dan menjatukan tangkai mawar
Didalam jiwa berbeda

Terima kasih
Aku mengerti atas kesakitan jiwaku
Yg tak kunjung dijawab sang waktu
Tapi sekarang aku paham
Untuk siapa  ku jatuhkan kesucian hatiku
Tak akan ada lagi nona yg menunggu merpati
Juga berdiri dihadapan senja
Berharap kau datang memeluk
Patahan rindu-rindu yg berserakan
Dilautan yg bergelombang

Minggu, 06 Juli 2014

Gejolak asa!

Jika kau menuruti kata hatimu
Kau akan membunuh yang terkasih mu
Terkadang memang harus membunuh Ego
Hingga bisa melihat mereka bersuka

Jalani walaupun hatimu merengek
Mungkin akan ada jalan lain, dipersimpangan itu! Atau di tengah jalan BUNTU!
Entah kemana arah, entah kapan akan datang
Dengan melunasi rasa sesalmu
Mungkin sedikit merebah Hatimu

Hidup kadang tak sejalan dengan angan TOLOL mu
Cobalah, sedikit saja!
Bersahabat dengan Takdir-Nya
Bisa saja otakmu membaik

Menangislah, jika hanya itu yang kau bisa!
Atau peluk angan-angan TOLOL mu
Rangkul MIMPI mu yang hampir terlepas
Gendong ASA mu yang melemah

Ada senyuman meminta tawa
Cuaca panas dan raut mu Dingin
Ini bukan drama komedi
Kenapa kau terus tertawa?
Dan ini bukan film Horror
Jangan menutup MATA!

Ada milyaran keringat yang perlu kau bayar
Jangan hanya terus menyesali Merpati yang entah terbang kemana
Ada jutaan percikan api yang harus kau padam
Teruslah berenang! Biarkan ombak yang bergejolak

Makanlah jeruk kecut itu! Jangan menggerutu!
Dia berkorban melawan duri-duri dibatang, hanya sebuah jeruk di pucuk pohon tua itu!
Tersenyumlah, katakan jeruk itu manis!
Semanis keringat yang menempel di sekujur tubuhnya

Mawar itu merah merona
Jangan kau petik!
Jika kau perlu galah memetiknya
Petiklah ketika mawar itu tumbuh
Tepat. Dibawah hatimu, yakinlah!
Tak akan sulit kau memetik dan menghela durinya

Sekarang kau hanya perlu berjalan
Dimana saja
Walaupun kau tak tahu itu dimana.

Malinda Aspariani :)

Minggu, 29 Juni 2014

Ayah mau begini, aku yah bigitu.

Menjadi sarjana Ekonomi memang sudah banyak
Tapi tahukah kamu Nak?
Ekonomilah yang bisa membahagiakan orang banyak
Jadilah Sarjana ekonomi yang baik
Kemudian terus belajar hingga kau menjadi Menteri
Yahh.. hebat bukan

*tersenyum*
(Dalam hatiku)
Aku begitu suka dengan sebuah perjalanan yang panjang
Menyusuri dusun, kampung, desa, kota, dan negara.
Dari jalan kaki, motor, bus, kereta, kapal laut, dan pesawat
Menyusuri pantai, ke sungai, hingga berbukitan dan gunung
Menikmati keragaman Indonesia hingga dunia
Mengecup mentari terbit hingga menyingsing
Berkenalan dengan jiwa jiwa baru, mengenal cultur yg beranekaragam
Begitula impian ku Ayah, sederhana saja
Tanpa harus menjadi orang Hebat seperti kata Ayah
Tapi dengan itu Ayah bahagia

Jika aku menjadi perempuan seperti yang aku mau
Apa ayah akan merekahkan Hati?
Atau tersenyum lalu memelukku
Kau Hebat Nak! Entahlah
Aku hanya takut jika kalian mencibir, memaki, dan menghina pilihanku
Ku mau hanya kalian melihatku kemudian dengan girang kalian berkata itu anakku Perempuan Hebat kami

*tertunduk lesu kemudian.... *
Iya lah Ayah, Semoga Aku menjadi orang Hebat pilihan Kalian
Semoga Doa Ayah dijabah Allah

(Ayah tersenyum)
*obrolan berakhir*

Sabtu, 14 Juni 2014

Gempulan Asap Dapur Tua

Ada suara kayu yang dilahap si jago merah
Pukulan kayu-kayu yang dipatahkan
Kemudian gempulan asap menyapa

Ada teriakan wanita gagah disana
Meminta ini, itu, kemudian diam
Kesana,kemari, pergi, kembali
Wanita tua itu bersemangat sekali

Api pun enggan membara
Tiupan pelan itu perlahan
Melahap kayu-kayu patah

Perlahan keringat pun jatuh
Dapur tua ini sungguh panas
Banyak asap, bara, debu
Tapi kenapa dia tak berhenti saja
Panas, bosan, lelah

Entah telah berapa lama
Dapur tua itu bersahabat dengannya
Mungkin puluhan tahun
Kedengaran akrab
Sehingga rindu telah bergejolak
Pergi pun tak ada dibenak nya

Ada ribuan keringat di dapur itu
Bersama wanita hebat
Ada cinta dan ketulusan
Untuk dua pria yang dicintainya
Dan tiga wanita belahan jiwanya

Berhentilah!
Dapur itu sudah semakin tua
Sepertimu
Semakin hari semaki  menua
Biarkan aku untuk berdiri disana
Menggantikanmu yang sudah semaki lelah

Akan ku manjakanmu bersama dapur tua itu!
Ibu

Pria dewata di sungai coklat

Seandainya tak ada lautan biru itu
Mungkin kau ada disini
Duduk disisi ku
Berjalan menyusuri senja
Bersama mencoba menerobos gelapnya malam

Ada hati yang berguncang
Saat panggilan jiwa
Menusuk pikiranku di jalanan malam ini

Ku nyanyikan sebuah lagu cinta
Untuk pria jangkung
Yang bermuara di sungai coklat itu
Tapi berjiwa dewata
Melirik ramahnya sunda
Ah~~ manis sekali
Kamu

Air sungai itu meluap
Saat suaraku datang menghampirimu
Diujung gagang telepon itu

Kenapa kau tak lagi menyapa hatiku?
Tak meminta ku bernyanyi
Katamu "setiap hari kau harus bernyanyi untukku"
Bagaimana tidak meledak
Pekempek yang terlalu lama diperapian itu

Kau tak lagi membalas senyumku
Kenapa hanya dilihat?
Coba rasakan
Sudahlah!
Aku pikir sungai itu tlah berubah warna



Untuk Pria yg mencoba membantu menyusun puzzle hati ku yg pecah. Terimakasih telah pergi tanpa kata (juga) titip rindu untuk sungai yg tenang itu, berikan sapa kepada keelokan dewata.

Thank you P.D

Rabu, 11 Juni 2014

Hanya karena Mu

Seandainya aku bisa pergi
Dari tempat yg tak ku inginkan, ini!
Tapi Tuhan bilang tidak!
Bertahanlah! Kamu pasti kuat

Biarkanlah air matamu mengalir
Hatimu hanya butuh sedikit kesejukan
Jangan bebankan pikiranmu
Sujudlah kepadaku
Rapatkan kesepuluh jemarimu
Aku selalu menjagamu

Biarkan mereka membicarakanmu
Hatimu yg Kuciptakan begitu lembut
Tapi tak akan rapuh
Jika kalau selalu melafalkan nama-namaku
Berzhikir disetiap ucapanmu
Niscaya kamu berjiwa besar

Haruskah aku?

Kenapa harus berbeda?
Kenapa harus difitnah?
Kenapa harus dibelakang?
Kenapa harus begini?
Kenapa harus begitu?
Kenapa harus membenciku?
Kenapa harus menoreng?

Kenapa tak disamakan?
Kenapa tak dibenarkan?
Kenapa tak didepan?
Kenapa tak jujur?
Kenapa tak mencintai?
Kenapa tak menyayangi?
Kenapa tak menyadari?

Bisakah tak naif
Bisakah tak munafik

Tak ada yg sempurna
Tak ada yg benar
Tak ada yg salah

Kenapa harus pura pura?
Kenapa harus mengecewa?

Hanya bisa berdoa
Hanya bisa bersujud
Hanya bisa bersabar
Hanya bisa memendam
Hanya Allah yang tahu

Semoga kalian tak salah
Semoga saya tak salah
Semoga kalian mengerti
Semoga saya mengerti

Mari saling intropeksi diri masing-masing
Siapa tahu ada coreng dimuka
Mungkin dikaki, ditangan, dipunggung, didada, di telapak, dibagian tubuh yg mungkin mata tak bisa melihat.

Shalat tak menjamin anda dan saya selalu benar
Puasa juga, dzikir juga, atau sedekah

Semoga kita selalu dalam lindungannya
Semoga kita bisa saling menjaga perasaan orang lain, semoga apa yg kita ucap bisa tersaring oleh akal terlebih dahulu,
Semua orang bisa memaafkan, Allah begitu.
Tapi melupakan adalah hal yg begitu sulit.

Yang Maha Agung. Semoga hati ini yg kau titipkan di tubuh Malinda aspariani ini adalah hati yg bersih, kuat, tabah, sabar, kasih , dan penyayang. Semoga Engkau selalu menjaga Hati Hamba yg tak ingin ternodai dari hal yg memburukkan Hamba.

Semoga yang tak bertulang tersaring o:)

Untuk yang telah mengasihi saya, dan menyayangi saya. Semoga tak akan ada kepalsuan lagi. Semoga kita selalu dalam Ridhoilahinya, Amin.

Rindu Tak Terbalas

Seperti merpati yang tak kunjung datang
Dipenghujung jendela tua itu
Aku duduk termenung
Menatap langit tua
Berharap sang merpati melambaikan sayapnya
Memberikan sepucuk rindu balasan
Yang tak kunjung hinggap
Membawa lembaran kesayupan malam itu

Kemana harum mawar yg merona itu
Tak ku temukan lagi mekarnya
Apalagi harum yg mengiang di pucuk ubun-ubun ini
Hanya ada duri itu yg mengias
Menahan jemariku untuk membelai

Aku menyesal telah mengecup ronamu
Aku terlalu bernafsu
ketika kau merekah menarik hatiku
Malam itu

Masih bersandar di pelupuk jendela itu
Merpati itu belum pula hinggap
Adakah rinduku tersampaikan
Atau hanya melayang tertiup angin malam

Mawar itu tak lagi merekah
Setelah ku patahkan sayup merahnya

Bisakah ku patahkan batangnya
Kemudian ku tanam di jiwaku
Akankah masih bisa tumbuh, berduri,
Kemudian merekah, meronah, dan mati
Disisiku. Selamanya

Rabu, 21 Mei 2014

Dibelakangku

Ku gilirkan langkah
Kala senja menari-nari
Memancar kekuningan
Ku tegakkan langkahku
Samakin menjauh

Sebelum kau menyingsing
Sinarmu memanggil
Merekah memerah
Jauh disana
Dibelakangku
Ku palingkan jalanan itu
Diseperempat cermin kecil melekuk
Bayangan elok menganga

Tersipu
Membelakangiku
Semakin menjauh
Hilang
Tapi terus merekah

Aku terdiam
Oleh kebekuan sinarmu
Bagaiman caranya
Menggambarkan alunan cahayamu itu

Ku lepas khayalan itu
Melanjutkan teriakan hati
Berjalan menyusuri kebisingan

Kanan mataku menyimpit
Ah.. dia terus merekah
Dikejahuan
Tak elok hatiku
Yang ku tahu
Liukannya semakin menutup
Pelan, perlahan tenggelam
Dibelakangku

Untuk seseorang yg sempat datang memberi kehangatan senyumannya, seorang yg pernah hadir saat patahan hatiku berserakan di jalanan.
Terima kasih R.A

Kamis, 24 April 2014

Terangkai

Hanya membariskan kata-kata
Tolol berisi makna
Melekat dibibir manis
Tak tertuang
Meleleh di ruang kosong
Tak bertepi

Ku raut makna jiwa
Merindu sentuhan
Sajak tak berarti
Hanya terpajang menari
Hadapi jiwa-jiwa tak elok

Ku biarkan dentuman
Mengoyakkan telinga
Dipercik kebodohan
Hanya tahu tidak mengerti

Rabu, 23 April 2014

Meredam Hati

Lekukan kerinduan malam ini
Menyesuri pembulu darah
Dingin mencekik ubun-ubun
Remang ini menjulur merayap
Hati tak bertuan

Ruang kosong senyap
Dengan tangisan hati
Tak bersua
Bising elokan tawa
Diluar tanpa jiwa

Jatuhkan segumpal rindu
Tak betuan
Kotori darah merah melantai
Jiwa menerkam sanubari
Membisu sang malam

Tengah malam merunduk
Menyepi dengan sunyi
Menangisi sejuk
Meratapi jiwa membelenggu
Menari berlenggak dikekosongan

Lambaian pedih berlagak
Tertunduk menyela
Biarkan asa ini memuncak

Selasa, 15 April 2014

Lekukan sang penari

Ketika kau sedang bermanja
Menari-nari membawa mereka
Mengkepak-kepak semangatnya
Aku tertawa memandangimu
Dibibir halus membentang
Duduk terpaku dikejahuan

Kau tak berniat menarikku
Terus saja kau melambai
Membekukan aku dengan kehangatan
Aku...
Hanya sendiri melongo
Bersandar dipohon tua tak berimbun

Tak sudi kah untukku
Menyusuri dinginmu
Atau menyentuhmu saja
Tapi jangan tarik aku
Aku takut !
Bagaimana jika aku tenggelam
Padahal pundakku lemah
Tak kuat untuk mengepak

Cukup menghirupmu saja
Melambaimu dikejahuan
Dan pergi dengan hembusanmu

Minggu, 09 Maret 2014

Pak Habibie Jangkung. Kamu~

Harusnya kamu tak disini
Bersembunyi menari-nari
Disanubari tak terisi

Untuk apa kamu merekah senyummu?
Bak mentari pagi hangat
Aliran darahku memanas
Nafasku tak beraturan
Jadi, berhentilah!

Bisakah kamu sembunyi
Kehangatan senyumanmu itu
Organ tubuh nomor satuku
Berdetak memuncak
Saat kamu merekah
Pancaran dimata hatiku
Oh.. begitu sejuknya

Entahlah
Mengapa kamu begitu?
Terus saja berjalan disini
Didepan wanita tolol ini
Oh aku tahu. Aku salah
Kamu memang sibuk. Wajar saja.
Bodoh! Aku salah arti
Dasar wanita tak tahu malu
Siapa aku? Baru saja kamu kenal
Sudah berlebihan, mengulur tangan saja belum

Hai pak Habibie jangkung
Biarlah aku tenang sebentar
Hentikan senyumanmu itu
Aku tak bisa begini
Ramah tamahmu itu
Membisukan ketidak pedulian ku

Habibie jangkung
Ku harap kamu tahu
Untuk siapa kutulis kebodohan ini?
Yah kamu. Yang menyapaku
Saat kaki ini melangkah didepanmu
Untuk kamu pastikan
Apakah kamu panggil itu aku?
Kenapa kamu tak hentikan
Langkah gugupku
Tapi tak usahlah
Jantungku berdetak kencang
Hanya kamu panggil
Apalagi? Sudahlah
Aku terlalu bodoh!



Sang Gubernur

Sabtu, 08 Maret 2014

Menelan senja

Kuteguk pancaran
Hangat menyentuh kulitku
Ketika mentari pagi
Memancarkan keelokannya

Kucoba tatap hangat itu
Silau memukau, menyejukkan
Sanubari bergeming
Oleh kehangatan percikannya

Sang Angin mengusik
Ia hembus awan hitam
Menghadap Sang Mentari
Mendung
Aku kecewa

Terus saja kutunggu
Penyejuk percikan hangat itu
Sayangnya awan hitam enggan berlalu
Terus saja berdiam
Hingga aku jengkel

Seperempat hari berlalu
Masih saja mendung
Langit kemudian bersua
Hingga Sang Rahmat turun
Menyapu bumi berdebu

Kucoba hirup. Ah, pekak
Tenggorokanku menyekik
Kusimpitkan bola mata
Sekali lagi kucoba menarik nafas
Enggan saja menyejuk

Kusandarkan tubuh ini
Terus tegakkan kepala
Berpikir langit berdiam
Awan kemudian berwarna
Mataku enggan mengedip
Lihatlah! Sepercik cahaya datang
Silau menyipitkan mataku

Si Elok itu memekar kembali
Kuangkat tubuh ini
Mencoba menyentuh cahayanya
Hangat mentari di ufuk barat
Diam-diam ingin berlalu

Kucoba hentikan. Bodoh!
Siapa aku? Ia pasti akan berlalu
Menutup diri. Kemudian,
Tenggelam
Sudahlah. Kutelan saja senja 
Meski tak sehangat pagi

Malinda Aspariani

Jumat, 07 Maret 2014

Yang tak bersua

Saat aku berteriak
Dia hanya diam
Menyegarkanku dengan lembut

Saat tubuhku lelah
Kuhempaskan tubuh ini
Tak ada kesakitan
Ketenangan menghampiri

Menutup air mataku
Hingga tak ada yg tahu
Menghapus perlahan

Yah~ mungkin hanya air
Air jernih nan tenang itu
Menyejukkan AKU

Senin, 03 Maret 2014

Pria di Ufuk Barat

Bumi merunduk seraya derap langkahnya
Langkah pria jangkung itu
Senyum sumringah dihadapan khalik
Semerona matahari membenam
Di ufuk barat itu

bola mataku enggan memejam
sang mentari menyinar
Tubuhku hanyut tersinar
Dipenantian benamannya

Untuk R.A
Pria jangkung dengan kehangatan senyumannya

Jumat, 28 Februari 2014

Srigala berbulu Domba

Kau temukan aku dikegelapan malam
Saat sang rembulan enggan datang
Aku tersesat dibelantara
Aku meringis menjerit tak karuan

Ada bayangan putih ku lihat
Disudut gelap semak belukar
Kau mengendap menatapku
Aku sumringah aku tak akan mati

Kamu datang menyapaku
Mengulurkan jemarimu
Tuk kugenggam
Hatiku merekah berbinar
Pahlawan dikegelapan

Aku tak menjerit (lagi)
Tertawa lepas
Seperti hidup kembali
Saat kau rangkul pundakku
Senderkan bahumu
Aku tenang, nyaman

Hari terus berlari
Mengitari sang cakrawala
Tak menyadarkanku
Telah tersesat dibelantara
Sendiri

Sang rembulan enggan bersinar
Bintang dilangitpun perlahan lenyap
Entahlah kenapa?
Kucari kesana kemari
Kau pun ikut lenyap
Menghilang

Aku menjerit histeris
Perjalan tanpa arah
Mencarimu dikegelapan belantara
Tapi tak kudapat
Yang kulihat bukan kamu (lagi)
Tapi sang srigala dipuncak itu
Mengaung kelaparan

Berlari tanpa arah
Menjauh darimu
Mencari jalan pulang
Kau semakin mendekat
Mencengkram leherku
Hingga aku terbaring lemah

Oh kamu...
srigala berbulu domba
Kau bantu kesesatan ku
Dibelentara yg tak ku tahu
Kau ingin memakanku

Malinda. Aspariani :)

PLONG!

Kosong, hampa!
Tapi aku suka
Tenang, sunyi
Lega, elok, manis
Ahh rasa apa ini?
Aku rasa hebat
Entahlah
Aku rasa plong!
Damai, enteng, ringan
Oh... aku suka

OH!


Sayang sekali semuanya beda
Hanya indah diawal saja
Hanya manis diluar saja
Kau tau tumpukan sampah!
Itulah kamu

Kau ludahi semuanya
Tetapi apa?
Kau jilad lagi semuanya
Aku benar-benar geli
Ilfil, muak, mual.
Tuk menatapmu saja
Aku enggan

Ternyata aku salah
Percuma saja positif thingking
Tak ada gunanya
Toh hasilnya negatif

Alasan klasikmu itu lucu
Aku berasa berumur 14tahun
Alasan yang tak pantas datang
Diusia wanita 19tahun

Ahhh. Kamu hebat yah
Aku tertipu oleh bibir manismu
Kau bersilat lidah
Bak pengacara handal

Tapi aku bersyukur
Aku tenang dan senang
Akhirnya bangkai itu kucium juga baunya
Sang tupai pandai pun terjatuh juga
Dan kamu..
Sang srigala berbulu domba
Tak sudi lagi tuk melirikmu
Apalagi harus menaiki pipiku
Memberikan senyuman
Maaf saja!

Malinda. Aspariani :)

Minggu, 23 Februari 2014

Mungkin kamu tak akan membaca tulisan ku ini
Karena katamu, kamu tak suka membaca
Hanya saja waktu itu kamu penasaran dengan hidupku
Makanya kau sempatkan melirik tulisan kecilku

Untukmu yg telah pergi
Dengan alasan yg klasik tak masuk akal
Menurutku.

Mau di apalagi? Toh kamu tlah pergi
Sayangnya tidak dihatiku
Kamu yg memulai semuanya
Tetapi kamu pula yg mengakhirinya

Aku tak pernah membayangkan ini
Keharusan berakhir
Semua orang tahu
Setiap pertemuan pasti ada perpisahan
Tapi menurutku, tidak secepat ini.
Tapi kata mu lagi, jika nanti aku semakin tersakiti
Entahlah
Aku tak paham dengan semua ini
Aku tak bisa membaca pikiranmu

Dimana kamu yg dulu memperjuangkan aku?
Dimana kamu yg selalu peduli denganku?
Apakah semuanya hanya sandiwara?
Dimana cintamu yg ku yakini?
Dimana kata-katamu dulu?
Apakah semuanya sekedar sampah?
Entahlah

Aku meyakini semua ini akan baik-baik saja
Sampai waktunya, yg entah kapan dtng
Aku hanya berharap semua yg kamu katakan
Alasan kamu pergi itu
Semoga bukan kebohongan
Karena jika IYA
Mungkin hati ini akan berubah

Kamis, 13 Februari 2014

Rindu

Kau tahu? Apa itu rindu?
Saat mulut ini ingin bicara
Seketika ia membisu
Saat telingaku tak ingin mendengar
Terus saja ia melebar
Saat mata ini memejam
Selalu ada kamu dipandanganku
Saat hati ini ingin menutup
Merintis tak bisa ku tutup
Untukmu

Aku hanya ingin melepas pandanganmu
Menghilangkan semua tentangmu
Didalam memori otak tersusun rapat
Menepis rintihan hati ini
Setiap saat memangilmu
Aku rindu
Hingga tertawa dengan ketololanku
Tersedu menangisi rasa ini

Ah.. aku benci rindu
Dia kejam, tajam, perih.
Dia membunuh otakku
Dia melumpuhkan nadiku
Hingga suatu siang
Jantungku seakan kronis
Kau tahu, seluruh tubuhku lunglai
Muka ku memudar
Aliran darah ditubuhku membeku
Seketika aku terbangun
Disiang yang sejuk

Aku tak paham dengan rindu
Dia tak pernah berhenti
Saat aku merintah
Dia terus beredar
Layaknya darah ditubuh ini
Sekali lagi, jangan bunuh aku dengan rindu ini

Malinda . Aspariani :)

Seandainya mulutku berani membuka
Kan kukatakan, aku rindu
Mohon jangan tertawakan ini
Aku tau aku tolol
Hingga siap mencintaimu

Selasa, 11 Februari 2014

Sayang sekali kita yang saling memperjuangkan kebahagian harus berhenti hanya karena keadaan yang katamu tak bisa, seandainya saja ku bisa mengulang waktu. Aku tak ingin mengenalmu apalagi harus Jatuh cinta denganmu.sayangnya tak ada mesin waktu. Aku tak tahu apa yang ada dipikiranmu apalagi dihatimu. Hanya saja aku selalu berharap hanya aku yang ada dipikiranmu dan hatimu. ya! walaupun sekarang kita saling membisu, sebenarnya aku ingin bicara banyak denganmu tetapi aku tak bisa karena aku terlalu takut untuk menatap kedua bola matamu. Aku tak kuat jika harus menangis (lagi) ,sekarang aku telah bisa sedikit tersenyum dan tak menangis lagi disetiap malam yang dingin saat aku merindukanmu, yah! aku memang tak menangis lagi tetapi, hatiku entah sampai kapan masih merindukanmu.

ehmmmm
Aku pernah berfikir kekanak-kanakan, apakah kau hanya berpura-pura mencintaiku? pura-pura menyayangiku? jawab aku! karena sekarang aku masih menunggumu yang entah datang atau tidaknya (lagi) disisiku. Jika tidak! pergilah! dengan siapapun, tapi percayalah tak akan ada wanita sepertiku lagi yang bisa mencintai kelebihan dan kekuranganmu. Sekarang biarkan aku sendiri dengan kebodohan-kebodohanku. Tak perlu kau risau, karena hati ini akan baik-baik saja yang aku sendiri tak tahu kapan akan membaik. Biarkan aku melewatinya sendiri, tanpa ada kamu, ataupun bayanganmu.

Aku memang sulit jatuh cinta, begitu pula melepaskan. Sekarang aku sedang ikhlas dan belajar menerima ketentuanNya dengan sabar. Setelah ini aku tak tahu akan jatuh cinta dengan siapa (lagi). Yang kuharapakan jika aku jatuh cinta lagi, ku mau kesekian kalinya aku ingin semuanya baik-baik saja dan akan bertahan hingga disebuah ikatan yang sakral dengan janji suci. trims :)

Malinda Aspariani :)

someone like you

Bisakah kutemukan (lagi)
Atau masih adakah?
Seseorang sepertimu
kupikir tlah sempurna
untuk sekecil hati ini
ingin kumiliki (lagi)
kamu versi berbeda
tak harus seutuh kamu!
bukan, bukan semacam itu
melepaskan aku
iringi oleh alasan klasik
mencengkap otakku
sepertimu, tak harus utuh kamu.


Malinda Aspariani :)

Minggu, 05 Januari 2014

Aku tak tahu Kenapa?

Kemarin kamu datang
Aku seperti mentari pagi, cerah!
Sekarang kamu pergi
Aku seperti lampu jalan, remang!

Katamu jangan pergi, tapi kamu yang pergi
Katamu jangan hilang, tapi kamu yg menghilang
Katamu jangan dinginkan aku, tapi kamu yang membekukanku
Katamu jangan berhenti, tapi kamu yang mengemudi

Aku tak tahu apa maumu?
Hingga semuanya berbalik padamu
Aku hanya berharap secepatnya bisa pergi
Dari senyummu, tawamu, sedihmu, dan hatimu
Akan ku hilangkan kamu dari hariku, hatiku, otaku
Tapi hanya satu yang tak kubisa
Menghilangkan memori tentang kita

Secepat inikah berakhir?
Aku tak percaya tapi ini nyata
Hanya perlu ikhlas
Dan akan ada yang lebih baik datang

Kamu harus tahu, sekarang
Malam-malam sepiku telah bersua
Pilu lara ini telah menari-nari
Senyuman getirku telah merekah
Aku bahagia sekarang tanpa kamu
Dan lebih bahagia jika ada kamu

Sayangnya kamu tak ada (lagi)
Kamu pergi dengan alasan
Yang kataku terlalu clasik
Tapi, mau dikata apa?
Itu sudah pilihanmu
Aku tak bisa menahanmu
Karena aku bukan pemaksa
Dan kemarin kamu datang tanpa paksaan
Jadi tak perlu kupaksa saat kamu ingin pergi

Lakukan apa yang membuatmu bahagia
Karena aku mengerti semuanya
Tapi, jangan pernah menyesali pilihanmu
Karena tak akan ada wanita sepertiku lagi
Yang datang dengan cinta padamu
Tak ada yang kucari darimu
Kecuali, kenyamanku bersamamu
Kuharap kamu bahagia
Tanpaku, pastinya.

Malinda aspariani :)