Sabtu, 08 Maret 2014

Menelan senja

Kuteguk pancaran
Hangat menyentuh kulitku
Ketika mentari pagi
Memancarkan keelokannya

Kucoba tatap hangat itu
Silau memukau, menyejukkan
Sanubari bergeming
Oleh kehangatan percikannya

Sang Angin mengusik
Ia hembus awan hitam
Menghadap Sang Mentari
Mendung
Aku kecewa

Terus saja kutunggu
Penyejuk percikan hangat itu
Sayangnya awan hitam enggan berlalu
Terus saja berdiam
Hingga aku jengkel

Seperempat hari berlalu
Masih saja mendung
Langit kemudian bersua
Hingga Sang Rahmat turun
Menyapu bumi berdebu

Kucoba hirup. Ah, pekak
Tenggorokanku menyekik
Kusimpitkan bola mata
Sekali lagi kucoba menarik nafas
Enggan saja menyejuk

Kusandarkan tubuh ini
Terus tegakkan kepala
Berpikir langit berdiam
Awan kemudian berwarna
Mataku enggan mengedip
Lihatlah! Sepercik cahaya datang
Silau menyipitkan mataku

Si Elok itu memekar kembali
Kuangkat tubuh ini
Mencoba menyentuh cahayanya
Hangat mentari di ufuk barat
Diam-diam ingin berlalu

Kucoba hentikan. Bodoh!
Siapa aku? Ia pasti akan berlalu
Menutup diri. Kemudian,
Tenggelam
Sudahlah. Kutelan saja senja 
Meski tak sehangat pagi

Malinda Aspariani

Tidak ada komentar: