Kuteguk pancaran
Hangat menyentuh kulitku
Ketika mentari pagi
Memancarkan keelokannya
Kucoba tatap hangat itu
Silau memukau, menyejukkan
Sanubari bergeming
Oleh kehangatan percikannya
Sang Angin mengusik
Ia hembus awan hitam
Menghadap Sang Mentari
Mendung
Aku kecewa
Terus saja kutunggu
Penyejuk percikan hangat itu
Sayangnya awan hitam enggan berlalu
Terus saja berdiam
Hingga aku jengkel
Seperempat hari berlalu
Masih saja mendung
Langit kemudian bersua
Hingga Sang Rahmat turun
Menyapu bumi berdebu
Kucoba hirup. Ah, pekak
Tenggorokanku menyekik
Kusimpitkan bola mata
Sekali lagi kucoba menarik nafas
Enggan saja menyejuk
Kusandarkan tubuh ini
Terus tegakkan kepala
Berpikir langit berdiam
Awan kemudian berwarna
Mataku enggan mengedip
Lihatlah! Sepercik cahaya datang
Silau menyipitkan mataku
Si Elok itu memekar kembali
Kuangkat tubuh ini
Mencoba menyentuh cahayanya
Hangat mentari di ufuk barat
Diam-diam ingin berlalu
Kucoba hentikan. Bodoh!
Siapa aku? Ia pasti akan berlalu
Menutup diri. Kemudian,
Tenggelam
Sudahlah. Kutelan saja senja
Meski tak sehangat pagi
Malinda Aspariani
Tidak ada komentar:
Posting Komentar