Seminggu lembab kedinginan
Dinding kamarku yang hiruk pikuk
Suara nyamuk nakal
Mengoceh meminta darah
Apa daya darahku terhisap pula
Seperti senyumanmu pagi itu
Tak perlu kau tahu
Jika di garis-garis tanganku
Engkaulah doa paling biru
Doa ini tak pernah terhalang apapun
Walaupun gelap malam
Kau tak menyapaku
Kusandarkan dinginnya jiwaku
Didinding kamar merapat jemarimu
Melosotkan embun kepelukan doaku
Aku ingin bicara sepatah dua kata
Hanya berdua didepan teras
Aku lelah menikmati senyummu
Setiap malam yang dingin
Tapi kau tak tahu, bahwa
Tubuh ini merikuk gemetaran
Masuklah ke dalam nadiku
Rasakan getaran darahku
Yang mengalir kegirangan
Dikala jiwamu menusuk hati ini
Dikegelapan malam
Ku coba menerobos dinding kamar
Untuk menepikan hatiku
Yang mematung kesepian
Lihatlah dinding itu
Berembun kedinginan
Lembab kesepian
Terpatung kesakitan
Tersandar juwita malam
Melekuk terisak rembulan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar