Seperti merpati yang tak kunjung datang
Dipenghujung jendela tua itu
Aku duduk termenung
Menatap langit tua
Berharap sang merpati melambaikan sayapnya
Memberikan sepucuk rindu balasan
Yang tak kunjung hinggap
Membawa lembaran kesayupan malam itu
Kemana harum mawar yg merona itu
Tak ku temukan lagi mekarnya
Apalagi harum yg mengiang di pucuk ubun-ubun ini
Hanya ada duri itu yg mengias
Menahan jemariku untuk membelai
Aku menyesal telah mengecup ronamu
Aku terlalu bernafsu
ketika kau merekah menarik hatiku
Malam itu
Masih bersandar di pelupuk jendela itu
Merpati itu belum pula hinggap
Adakah rinduku tersampaikan
Atau hanya melayang tertiup angin malam
Mawar itu tak lagi merekah
Setelah ku patahkan sayup merahnya
Bisakah ku patahkan batangnya
Kemudian ku tanam di jiwaku
Akankah masih bisa tumbuh, berduri,
Kemudian merekah, meronah, dan mati
Disisiku. Selamanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar