Minggu, 29 Juni 2014

Ayah mau begini, aku yah bigitu.

Menjadi sarjana Ekonomi memang sudah banyak
Tapi tahukah kamu Nak?
Ekonomilah yang bisa membahagiakan orang banyak
Jadilah Sarjana ekonomi yang baik
Kemudian terus belajar hingga kau menjadi Menteri
Yahh.. hebat bukan

*tersenyum*
(Dalam hatiku)
Aku begitu suka dengan sebuah perjalanan yang panjang
Menyusuri dusun, kampung, desa, kota, dan negara.
Dari jalan kaki, motor, bus, kereta, kapal laut, dan pesawat
Menyusuri pantai, ke sungai, hingga berbukitan dan gunung
Menikmati keragaman Indonesia hingga dunia
Mengecup mentari terbit hingga menyingsing
Berkenalan dengan jiwa jiwa baru, mengenal cultur yg beranekaragam
Begitula impian ku Ayah, sederhana saja
Tanpa harus menjadi orang Hebat seperti kata Ayah
Tapi dengan itu Ayah bahagia

Jika aku menjadi perempuan seperti yang aku mau
Apa ayah akan merekahkan Hati?
Atau tersenyum lalu memelukku
Kau Hebat Nak! Entahlah
Aku hanya takut jika kalian mencibir, memaki, dan menghina pilihanku
Ku mau hanya kalian melihatku kemudian dengan girang kalian berkata itu anakku Perempuan Hebat kami

*tertunduk lesu kemudian.... *
Iya lah Ayah, Semoga Aku menjadi orang Hebat pilihan Kalian
Semoga Doa Ayah dijabah Allah

(Ayah tersenyum)
*obrolan berakhir*

Sabtu, 14 Juni 2014

Gempulan Asap Dapur Tua

Ada suara kayu yang dilahap si jago merah
Pukulan kayu-kayu yang dipatahkan
Kemudian gempulan asap menyapa

Ada teriakan wanita gagah disana
Meminta ini, itu, kemudian diam
Kesana,kemari, pergi, kembali
Wanita tua itu bersemangat sekali

Api pun enggan membara
Tiupan pelan itu perlahan
Melahap kayu-kayu patah

Perlahan keringat pun jatuh
Dapur tua ini sungguh panas
Banyak asap, bara, debu
Tapi kenapa dia tak berhenti saja
Panas, bosan, lelah

Entah telah berapa lama
Dapur tua itu bersahabat dengannya
Mungkin puluhan tahun
Kedengaran akrab
Sehingga rindu telah bergejolak
Pergi pun tak ada dibenak nya

Ada ribuan keringat di dapur itu
Bersama wanita hebat
Ada cinta dan ketulusan
Untuk dua pria yang dicintainya
Dan tiga wanita belahan jiwanya

Berhentilah!
Dapur itu sudah semakin tua
Sepertimu
Semakin hari semaki  menua
Biarkan aku untuk berdiri disana
Menggantikanmu yang sudah semaki lelah

Akan ku manjakanmu bersama dapur tua itu!
Ibu

Pria dewata di sungai coklat

Seandainya tak ada lautan biru itu
Mungkin kau ada disini
Duduk disisi ku
Berjalan menyusuri senja
Bersama mencoba menerobos gelapnya malam

Ada hati yang berguncang
Saat panggilan jiwa
Menusuk pikiranku di jalanan malam ini

Ku nyanyikan sebuah lagu cinta
Untuk pria jangkung
Yang bermuara di sungai coklat itu
Tapi berjiwa dewata
Melirik ramahnya sunda
Ah~~ manis sekali
Kamu

Air sungai itu meluap
Saat suaraku datang menghampirimu
Diujung gagang telepon itu

Kenapa kau tak lagi menyapa hatiku?
Tak meminta ku bernyanyi
Katamu "setiap hari kau harus bernyanyi untukku"
Bagaimana tidak meledak
Pekempek yang terlalu lama diperapian itu

Kau tak lagi membalas senyumku
Kenapa hanya dilihat?
Coba rasakan
Sudahlah!
Aku pikir sungai itu tlah berubah warna



Untuk Pria yg mencoba membantu menyusun puzzle hati ku yg pecah. Terimakasih telah pergi tanpa kata (juga) titip rindu untuk sungai yg tenang itu, berikan sapa kepada keelokan dewata.

Thank you P.D

Rabu, 11 Juni 2014

Hanya karena Mu

Seandainya aku bisa pergi
Dari tempat yg tak ku inginkan, ini!
Tapi Tuhan bilang tidak!
Bertahanlah! Kamu pasti kuat

Biarkanlah air matamu mengalir
Hatimu hanya butuh sedikit kesejukan
Jangan bebankan pikiranmu
Sujudlah kepadaku
Rapatkan kesepuluh jemarimu
Aku selalu menjagamu

Biarkan mereka membicarakanmu
Hatimu yg Kuciptakan begitu lembut
Tapi tak akan rapuh
Jika kalau selalu melafalkan nama-namaku
Berzhikir disetiap ucapanmu
Niscaya kamu berjiwa besar

Haruskah aku?

Kenapa harus berbeda?
Kenapa harus difitnah?
Kenapa harus dibelakang?
Kenapa harus begini?
Kenapa harus begitu?
Kenapa harus membenciku?
Kenapa harus menoreng?

Kenapa tak disamakan?
Kenapa tak dibenarkan?
Kenapa tak didepan?
Kenapa tak jujur?
Kenapa tak mencintai?
Kenapa tak menyayangi?
Kenapa tak menyadari?

Bisakah tak naif
Bisakah tak munafik

Tak ada yg sempurna
Tak ada yg benar
Tak ada yg salah

Kenapa harus pura pura?
Kenapa harus mengecewa?

Hanya bisa berdoa
Hanya bisa bersujud
Hanya bisa bersabar
Hanya bisa memendam
Hanya Allah yang tahu

Semoga kalian tak salah
Semoga saya tak salah
Semoga kalian mengerti
Semoga saya mengerti

Mari saling intropeksi diri masing-masing
Siapa tahu ada coreng dimuka
Mungkin dikaki, ditangan, dipunggung, didada, di telapak, dibagian tubuh yg mungkin mata tak bisa melihat.

Shalat tak menjamin anda dan saya selalu benar
Puasa juga, dzikir juga, atau sedekah

Semoga kita selalu dalam lindungannya
Semoga kita bisa saling menjaga perasaan orang lain, semoga apa yg kita ucap bisa tersaring oleh akal terlebih dahulu,
Semua orang bisa memaafkan, Allah begitu.
Tapi melupakan adalah hal yg begitu sulit.

Yang Maha Agung. Semoga hati ini yg kau titipkan di tubuh Malinda aspariani ini adalah hati yg bersih, kuat, tabah, sabar, kasih , dan penyayang. Semoga Engkau selalu menjaga Hati Hamba yg tak ingin ternodai dari hal yg memburukkan Hamba.

Semoga yang tak bertulang tersaring o:)

Untuk yang telah mengasihi saya, dan menyayangi saya. Semoga tak akan ada kepalsuan lagi. Semoga kita selalu dalam Ridhoilahinya, Amin.

Rindu Tak Terbalas

Seperti merpati yang tak kunjung datang
Dipenghujung jendela tua itu
Aku duduk termenung
Menatap langit tua
Berharap sang merpati melambaikan sayapnya
Memberikan sepucuk rindu balasan
Yang tak kunjung hinggap
Membawa lembaran kesayupan malam itu

Kemana harum mawar yg merona itu
Tak ku temukan lagi mekarnya
Apalagi harum yg mengiang di pucuk ubun-ubun ini
Hanya ada duri itu yg mengias
Menahan jemariku untuk membelai

Aku menyesal telah mengecup ronamu
Aku terlalu bernafsu
ketika kau merekah menarik hatiku
Malam itu

Masih bersandar di pelupuk jendela itu
Merpati itu belum pula hinggap
Adakah rinduku tersampaikan
Atau hanya melayang tertiup angin malam

Mawar itu tak lagi merekah
Setelah ku patahkan sayup merahnya

Bisakah ku patahkan batangnya
Kemudian ku tanam di jiwaku
Akankah masih bisa tumbuh, berduri,
Kemudian merekah, meronah, dan mati
Disisiku. Selamanya