Minggu, 28 Desember 2014

Senandung subuh

Kemana perginya suara merdu itu
Ayat-ayat Al-Quran disubuh
Yang kudengar begitu menawan
Seperti kamu kukenal dahulu

Senandung subuh yang ku nanti
Tapi telah mati oleh dinginnya
Embun pagi kota ini
Kali ini hanya ada bising bernyanyi

Bangunkan aku disubuh itu (lagi)
Bersama senandungmu
Yang membuatku menari-nari
Bergejolak dalam sepi

Aku bosan bernyanyi
Bersyair liar tapi tak ada yang tahu
Aku bosan menari
Berelok tak terarah tanpamu

Bangunkan aku lagi
Dengan dinginnya embun Subuh
Bersama senandungmu
Yang menusuk sunyi hatiku

Senandungmu
Mengalirkan darahmu kedalam bait jiwaku
Dalam doa resahku, rindu yang keras kepala
Di telinga ini, kekalkan senandungmu
Di Nadiku

Dinding kamarku lembab

Seminggu lembab kedinginan
Dinding kamarku yang hiruk pikuk
Suara nyamuk nakal
Mengoceh meminta darah

Apa daya darahku terhisap pula
Seperti senyumanmu pagi itu
Tak perlu kau tahu
Jika di garis-garis tanganku
Engkaulah doa paling biru

Doa ini tak pernah terhalang apapun
Walaupun gelap malam
Kau tak menyapaku
Kusandarkan dinginnya jiwaku
Didinding kamar merapat jemarimu
Melosotkan embun kepelukan doaku

Aku ingin bicara sepatah dua kata
Hanya berdua didepan teras
Aku lelah menikmati senyummu
Setiap malam yang dingin
Tapi kau tak tahu, bahwa
Tubuh ini merikuk gemetaran

Masuklah ke dalam nadiku
Rasakan getaran darahku
Yang mengalir kegirangan
Dikala jiwamu menusuk hati ini

Dikegelapan malam
Ku coba menerobos dinding kamar
Untuk menepikan hatiku
Yang mematung kesepian

Lihatlah dinding itu
Berembun kedinginan
Lembab kesepian
Terpatung kesakitan
Tersandar juwita malam
Melekuk terisak rembulan

Minggu, 09 November 2014

Sang Bayangan. Itu Aku

Duduk manja berdua bercengkrama
Di ruang rindu bersama kekasihmu
Tersipu aku tak tahu
Jika hati mingikis relungnya

Dipangkuan rindu ini
Aku tersenyum menyendiri
Menangis merona dibelakang
Bayang bayang sepasang jiwa

Yang mengikat kasih dangan hati
Tak tahukah kalian
Aku berduka dalam tawa
Bertopeng setebal baja
Menahan asa yang mengepul

Ajak aku berdiri bersama jiwamu
Cinta
Berdua saja, tak ada dia
Tertawa bersama tangisku
Memeluk butiran dihatiku

Memastikan topeng ini terjatuh
Lihatlah wajah penyair rindu
Yang mematung dalam cinta
Disudut hatimu

Selasa, 09 September 2014

Diseberang pulau itu!

Kumis tipis diatas bibir merahmu
Menghanyutkan potongan-potongan jiwaku
Tiupan angin melambaikan hitam panjang rambutmu
Menguraikan Kumpulan darah hitam kelabu

Sihir disinar senyummu
Menghangatkan tubuhku dikedinginan
Diatas puncak gunung

Sayang sekali aku masih kedinginan
Karena tak ada matahari
Dilekukan kebekuan hatiku
Sang mentari dibibir tipismu
Tertutup kabut, gelap!

Aku berharap ada tangan gagah
Meraih jiwa kosong dikelelahan
Setiap trek gunung yang kulampaui

Dimana sosok bayanganmu?
Hilangkah oleh kabut sore ini?

Aku gagal berdiri diatas awan bersamamu
Berharap dibawah sana
Sosokmu menantiku penuh kehangatan
Meraih jemariku
Merangkul kelelahanku

Lagi! Kamu hanya menyapa
Dengan senyuman andalanmu
Hingga meluapkan aliran darahku
Andai kau merangkul pundakku
Menghapus ribuan keringat ini

Tapi, hanya ada lima jari menyapaku
Kemudian menyinari hatiku
Lewat kerumunan sinar senyummu

Terimakasih
Ribuan keringatku, terhapus!
Walau separuh

Untuk pria berkumis tipis, berambut hitam sebahu di seberang pulau. Terimakasih :) A.R.W

Sabtu, 09 Agustus 2014

Merpati Menanti

Jantung ku kembali berdetak kencang
Saat bait-bait katamu menyapa
Kesunyian jiwa yg hampir membeku

Telah lama ku menunggu diujung senja
Tanpa jawaban dan pertanyaan
Mengapa harus menunggu?
Kenapa terus membisu?

Enam bulan berlalu dengan kebisuan
Dan entah kenapa ramai hati meronta
Apa masih ada rasa? Atau tersiksa

Aku terus menunggu merpati itu kembali
Menyapa lewat sayap-sayap putih
Duduk termenung diujung patahan rindu
Tak bertepi

Sang merpati membawa mawar merah
Dihadapan jiwa yg terbisu
Menganga hati yg kosong

Perlahan aku beranjak pergi
Sang merpati tak membawakan mawar itu
Dihadapan rona jiwa merana
Ia hanya terbang melintas menyapa kebekuan
Kemudian terbang tinggi
Dan menjatukan tangkai mawar
Didalam jiwa berbeda

Terima kasih
Aku mengerti atas kesakitan jiwaku
Yg tak kunjung dijawab sang waktu
Tapi sekarang aku paham
Untuk siapa  ku jatuhkan kesucian hatiku
Tak akan ada lagi nona yg menunggu merpati
Juga berdiri dihadapan senja
Berharap kau datang memeluk
Patahan rindu-rindu yg berserakan
Dilautan yg bergelombang

Minggu, 06 Juli 2014

Gejolak asa!

Jika kau menuruti kata hatimu
Kau akan membunuh yang terkasih mu
Terkadang memang harus membunuh Ego
Hingga bisa melihat mereka bersuka

Jalani walaupun hatimu merengek
Mungkin akan ada jalan lain, dipersimpangan itu! Atau di tengah jalan BUNTU!
Entah kemana arah, entah kapan akan datang
Dengan melunasi rasa sesalmu
Mungkin sedikit merebah Hatimu

Hidup kadang tak sejalan dengan angan TOLOL mu
Cobalah, sedikit saja!
Bersahabat dengan Takdir-Nya
Bisa saja otakmu membaik

Menangislah, jika hanya itu yang kau bisa!
Atau peluk angan-angan TOLOL mu
Rangkul MIMPI mu yang hampir terlepas
Gendong ASA mu yang melemah

Ada senyuman meminta tawa
Cuaca panas dan raut mu Dingin
Ini bukan drama komedi
Kenapa kau terus tertawa?
Dan ini bukan film Horror
Jangan menutup MATA!

Ada milyaran keringat yang perlu kau bayar
Jangan hanya terus menyesali Merpati yang entah terbang kemana
Ada jutaan percikan api yang harus kau padam
Teruslah berenang! Biarkan ombak yang bergejolak

Makanlah jeruk kecut itu! Jangan menggerutu!
Dia berkorban melawan duri-duri dibatang, hanya sebuah jeruk di pucuk pohon tua itu!
Tersenyumlah, katakan jeruk itu manis!
Semanis keringat yang menempel di sekujur tubuhnya

Mawar itu merah merona
Jangan kau petik!
Jika kau perlu galah memetiknya
Petiklah ketika mawar itu tumbuh
Tepat. Dibawah hatimu, yakinlah!
Tak akan sulit kau memetik dan menghela durinya

Sekarang kau hanya perlu berjalan
Dimana saja
Walaupun kau tak tahu itu dimana.

Malinda Aspariani :)

Minggu, 29 Juni 2014

Ayah mau begini, aku yah bigitu.

Menjadi sarjana Ekonomi memang sudah banyak
Tapi tahukah kamu Nak?
Ekonomilah yang bisa membahagiakan orang banyak
Jadilah Sarjana ekonomi yang baik
Kemudian terus belajar hingga kau menjadi Menteri
Yahh.. hebat bukan

*tersenyum*
(Dalam hatiku)
Aku begitu suka dengan sebuah perjalanan yang panjang
Menyusuri dusun, kampung, desa, kota, dan negara.
Dari jalan kaki, motor, bus, kereta, kapal laut, dan pesawat
Menyusuri pantai, ke sungai, hingga berbukitan dan gunung
Menikmati keragaman Indonesia hingga dunia
Mengecup mentari terbit hingga menyingsing
Berkenalan dengan jiwa jiwa baru, mengenal cultur yg beranekaragam
Begitula impian ku Ayah, sederhana saja
Tanpa harus menjadi orang Hebat seperti kata Ayah
Tapi dengan itu Ayah bahagia

Jika aku menjadi perempuan seperti yang aku mau
Apa ayah akan merekahkan Hati?
Atau tersenyum lalu memelukku
Kau Hebat Nak! Entahlah
Aku hanya takut jika kalian mencibir, memaki, dan menghina pilihanku
Ku mau hanya kalian melihatku kemudian dengan girang kalian berkata itu anakku Perempuan Hebat kami

*tertunduk lesu kemudian.... *
Iya lah Ayah, Semoga Aku menjadi orang Hebat pilihan Kalian
Semoga Doa Ayah dijabah Allah

(Ayah tersenyum)
*obrolan berakhir*

Sabtu, 14 Juni 2014

Gempulan Asap Dapur Tua

Ada suara kayu yang dilahap si jago merah
Pukulan kayu-kayu yang dipatahkan
Kemudian gempulan asap menyapa

Ada teriakan wanita gagah disana
Meminta ini, itu, kemudian diam
Kesana,kemari, pergi, kembali
Wanita tua itu bersemangat sekali

Api pun enggan membara
Tiupan pelan itu perlahan
Melahap kayu-kayu patah

Perlahan keringat pun jatuh
Dapur tua ini sungguh panas
Banyak asap, bara, debu
Tapi kenapa dia tak berhenti saja
Panas, bosan, lelah

Entah telah berapa lama
Dapur tua itu bersahabat dengannya
Mungkin puluhan tahun
Kedengaran akrab
Sehingga rindu telah bergejolak
Pergi pun tak ada dibenak nya

Ada ribuan keringat di dapur itu
Bersama wanita hebat
Ada cinta dan ketulusan
Untuk dua pria yang dicintainya
Dan tiga wanita belahan jiwanya

Berhentilah!
Dapur itu sudah semakin tua
Sepertimu
Semakin hari semaki  menua
Biarkan aku untuk berdiri disana
Menggantikanmu yang sudah semaki lelah

Akan ku manjakanmu bersama dapur tua itu!
Ibu

Pria dewata di sungai coklat

Seandainya tak ada lautan biru itu
Mungkin kau ada disini
Duduk disisi ku
Berjalan menyusuri senja
Bersama mencoba menerobos gelapnya malam

Ada hati yang berguncang
Saat panggilan jiwa
Menusuk pikiranku di jalanan malam ini

Ku nyanyikan sebuah lagu cinta
Untuk pria jangkung
Yang bermuara di sungai coklat itu
Tapi berjiwa dewata
Melirik ramahnya sunda
Ah~~ manis sekali
Kamu

Air sungai itu meluap
Saat suaraku datang menghampirimu
Diujung gagang telepon itu

Kenapa kau tak lagi menyapa hatiku?
Tak meminta ku bernyanyi
Katamu "setiap hari kau harus bernyanyi untukku"
Bagaimana tidak meledak
Pekempek yang terlalu lama diperapian itu

Kau tak lagi membalas senyumku
Kenapa hanya dilihat?
Coba rasakan
Sudahlah!
Aku pikir sungai itu tlah berubah warna



Untuk Pria yg mencoba membantu menyusun puzzle hati ku yg pecah. Terimakasih telah pergi tanpa kata (juga) titip rindu untuk sungai yg tenang itu, berikan sapa kepada keelokan dewata.

Thank you P.D