Minggu, 09 Maret 2014

Pak Habibie Jangkung. Kamu~

Harusnya kamu tak disini
Bersembunyi menari-nari
Disanubari tak terisi

Untuk apa kamu merekah senyummu?
Bak mentari pagi hangat
Aliran darahku memanas
Nafasku tak beraturan
Jadi, berhentilah!

Bisakah kamu sembunyi
Kehangatan senyumanmu itu
Organ tubuh nomor satuku
Berdetak memuncak
Saat kamu merekah
Pancaran dimata hatiku
Oh.. begitu sejuknya

Entahlah
Mengapa kamu begitu?
Terus saja berjalan disini
Didepan wanita tolol ini
Oh aku tahu. Aku salah
Kamu memang sibuk. Wajar saja.
Bodoh! Aku salah arti
Dasar wanita tak tahu malu
Siapa aku? Baru saja kamu kenal
Sudah berlebihan, mengulur tangan saja belum

Hai pak Habibie jangkung
Biarlah aku tenang sebentar
Hentikan senyumanmu itu
Aku tak bisa begini
Ramah tamahmu itu
Membisukan ketidak pedulian ku

Habibie jangkung
Ku harap kamu tahu
Untuk siapa kutulis kebodohan ini?
Yah kamu. Yang menyapaku
Saat kaki ini melangkah didepanmu
Untuk kamu pastikan
Apakah kamu panggil itu aku?
Kenapa kamu tak hentikan
Langkah gugupku
Tapi tak usahlah
Jantungku berdetak kencang
Hanya kamu panggil
Apalagi? Sudahlah
Aku terlalu bodoh!



Sang Gubernur

Sabtu, 08 Maret 2014

Menelan senja

Kuteguk pancaran
Hangat menyentuh kulitku
Ketika mentari pagi
Memancarkan keelokannya

Kucoba tatap hangat itu
Silau memukau, menyejukkan
Sanubari bergeming
Oleh kehangatan percikannya

Sang Angin mengusik
Ia hembus awan hitam
Menghadap Sang Mentari
Mendung
Aku kecewa

Terus saja kutunggu
Penyejuk percikan hangat itu
Sayangnya awan hitam enggan berlalu
Terus saja berdiam
Hingga aku jengkel

Seperempat hari berlalu
Masih saja mendung
Langit kemudian bersua
Hingga Sang Rahmat turun
Menyapu bumi berdebu

Kucoba hirup. Ah, pekak
Tenggorokanku menyekik
Kusimpitkan bola mata
Sekali lagi kucoba menarik nafas
Enggan saja menyejuk

Kusandarkan tubuh ini
Terus tegakkan kepala
Berpikir langit berdiam
Awan kemudian berwarna
Mataku enggan mengedip
Lihatlah! Sepercik cahaya datang
Silau menyipitkan mataku

Si Elok itu memekar kembali
Kuangkat tubuh ini
Mencoba menyentuh cahayanya
Hangat mentari di ufuk barat
Diam-diam ingin berlalu

Kucoba hentikan. Bodoh!
Siapa aku? Ia pasti akan berlalu
Menutup diri. Kemudian,
Tenggelam
Sudahlah. Kutelan saja senja 
Meski tak sehangat pagi

Malinda Aspariani

Jumat, 07 Maret 2014

Yang tak bersua

Saat aku berteriak
Dia hanya diam
Menyegarkanku dengan lembut

Saat tubuhku lelah
Kuhempaskan tubuh ini
Tak ada kesakitan
Ketenangan menghampiri

Menutup air mataku
Hingga tak ada yg tahu
Menghapus perlahan

Yah~ mungkin hanya air
Air jernih nan tenang itu
Menyejukkan AKU

Senin, 03 Maret 2014

Pria di Ufuk Barat

Bumi merunduk seraya derap langkahnya
Langkah pria jangkung itu
Senyum sumringah dihadapan khalik
Semerona matahari membenam
Di ufuk barat itu

bola mataku enggan memejam
sang mentari menyinar
Tubuhku hanyut tersinar
Dipenantian benamannya

Untuk R.A
Pria jangkung dengan kehangatan senyumannya

Jumat, 28 Februari 2014

Srigala berbulu Domba

Kau temukan aku dikegelapan malam
Saat sang rembulan enggan datang
Aku tersesat dibelantara
Aku meringis menjerit tak karuan

Ada bayangan putih ku lihat
Disudut gelap semak belukar
Kau mengendap menatapku
Aku sumringah aku tak akan mati

Kamu datang menyapaku
Mengulurkan jemarimu
Tuk kugenggam
Hatiku merekah berbinar
Pahlawan dikegelapan

Aku tak menjerit (lagi)
Tertawa lepas
Seperti hidup kembali
Saat kau rangkul pundakku
Senderkan bahumu
Aku tenang, nyaman

Hari terus berlari
Mengitari sang cakrawala
Tak menyadarkanku
Telah tersesat dibelantara
Sendiri

Sang rembulan enggan bersinar
Bintang dilangitpun perlahan lenyap
Entahlah kenapa?
Kucari kesana kemari
Kau pun ikut lenyap
Menghilang

Aku menjerit histeris
Perjalan tanpa arah
Mencarimu dikegelapan belantara
Tapi tak kudapat
Yang kulihat bukan kamu (lagi)
Tapi sang srigala dipuncak itu
Mengaung kelaparan

Berlari tanpa arah
Menjauh darimu
Mencari jalan pulang
Kau semakin mendekat
Mencengkram leherku
Hingga aku terbaring lemah

Oh kamu...
srigala berbulu domba
Kau bantu kesesatan ku
Dibelentara yg tak ku tahu
Kau ingin memakanku

Malinda. Aspariani :)

PLONG!

Kosong, hampa!
Tapi aku suka
Tenang, sunyi
Lega, elok, manis
Ahh rasa apa ini?
Aku rasa hebat
Entahlah
Aku rasa plong!
Damai, enteng, ringan
Oh... aku suka

OH!


Sayang sekali semuanya beda
Hanya indah diawal saja
Hanya manis diluar saja
Kau tau tumpukan sampah!
Itulah kamu

Kau ludahi semuanya
Tetapi apa?
Kau jilad lagi semuanya
Aku benar-benar geli
Ilfil, muak, mual.
Tuk menatapmu saja
Aku enggan

Ternyata aku salah
Percuma saja positif thingking
Tak ada gunanya
Toh hasilnya negatif

Alasan klasikmu itu lucu
Aku berasa berumur 14tahun
Alasan yang tak pantas datang
Diusia wanita 19tahun

Ahhh. Kamu hebat yah
Aku tertipu oleh bibir manismu
Kau bersilat lidah
Bak pengacara handal

Tapi aku bersyukur
Aku tenang dan senang
Akhirnya bangkai itu kucium juga baunya
Sang tupai pandai pun terjatuh juga
Dan kamu..
Sang srigala berbulu domba
Tak sudi lagi tuk melirikmu
Apalagi harus menaiki pipiku
Memberikan senyuman
Maaf saja!

Malinda. Aspariani :)

Minggu, 23 Februari 2014

Mungkin kamu tak akan membaca tulisan ku ini
Karena katamu, kamu tak suka membaca
Hanya saja waktu itu kamu penasaran dengan hidupku
Makanya kau sempatkan melirik tulisan kecilku

Untukmu yg telah pergi
Dengan alasan yg klasik tak masuk akal
Menurutku.

Mau di apalagi? Toh kamu tlah pergi
Sayangnya tidak dihatiku
Kamu yg memulai semuanya
Tetapi kamu pula yg mengakhirinya

Aku tak pernah membayangkan ini
Keharusan berakhir
Semua orang tahu
Setiap pertemuan pasti ada perpisahan
Tapi menurutku, tidak secepat ini.
Tapi kata mu lagi, jika nanti aku semakin tersakiti
Entahlah
Aku tak paham dengan semua ini
Aku tak bisa membaca pikiranmu

Dimana kamu yg dulu memperjuangkan aku?
Dimana kamu yg selalu peduli denganku?
Apakah semuanya hanya sandiwara?
Dimana cintamu yg ku yakini?
Dimana kata-katamu dulu?
Apakah semuanya sekedar sampah?
Entahlah

Aku meyakini semua ini akan baik-baik saja
Sampai waktunya, yg entah kapan dtng
Aku hanya berharap semua yg kamu katakan
Alasan kamu pergi itu
Semoga bukan kebohongan
Karena jika IYA
Mungkin hati ini akan berubah

Kamis, 13 Februari 2014

Rindu

Kau tahu? Apa itu rindu?
Saat mulut ini ingin bicara
Seketika ia membisu
Saat telingaku tak ingin mendengar
Terus saja ia melebar
Saat mata ini memejam
Selalu ada kamu dipandanganku
Saat hati ini ingin menutup
Merintis tak bisa ku tutup
Untukmu

Aku hanya ingin melepas pandanganmu
Menghilangkan semua tentangmu
Didalam memori otak tersusun rapat
Menepis rintihan hati ini
Setiap saat memangilmu
Aku rindu
Hingga tertawa dengan ketololanku
Tersedu menangisi rasa ini

Ah.. aku benci rindu
Dia kejam, tajam, perih.
Dia membunuh otakku
Dia melumpuhkan nadiku
Hingga suatu siang
Jantungku seakan kronis
Kau tahu, seluruh tubuhku lunglai
Muka ku memudar
Aliran darah ditubuhku membeku
Seketika aku terbangun
Disiang yang sejuk

Aku tak paham dengan rindu
Dia tak pernah berhenti
Saat aku merintah
Dia terus beredar
Layaknya darah ditubuh ini
Sekali lagi, jangan bunuh aku dengan rindu ini

Malinda . Aspariani :)

Seandainya mulutku berani membuka
Kan kukatakan, aku rindu
Mohon jangan tertawakan ini
Aku tau aku tolol
Hingga siap mencintaimu