Rabu, 21 Mei 2014

Dibelakangku

Ku gilirkan langkah
Kala senja menari-nari
Memancar kekuningan
Ku tegakkan langkahku
Samakin menjauh

Sebelum kau menyingsing
Sinarmu memanggil
Merekah memerah
Jauh disana
Dibelakangku
Ku palingkan jalanan itu
Diseperempat cermin kecil melekuk
Bayangan elok menganga

Tersipu
Membelakangiku
Semakin menjauh
Hilang
Tapi terus merekah

Aku terdiam
Oleh kebekuan sinarmu
Bagaiman caranya
Menggambarkan alunan cahayamu itu

Ku lepas khayalan itu
Melanjutkan teriakan hati
Berjalan menyusuri kebisingan

Kanan mataku menyimpit
Ah.. dia terus merekah
Dikejahuan
Tak elok hatiku
Yang ku tahu
Liukannya semakin menutup
Pelan, perlahan tenggelam
Dibelakangku

Untuk seseorang yg sempat datang memberi kehangatan senyumannya, seorang yg pernah hadir saat patahan hatiku berserakan di jalanan.
Terima kasih R.A

Kamis, 24 April 2014

Terangkai

Hanya membariskan kata-kata
Tolol berisi makna
Melekat dibibir manis
Tak tertuang
Meleleh di ruang kosong
Tak bertepi

Ku raut makna jiwa
Merindu sentuhan
Sajak tak berarti
Hanya terpajang menari
Hadapi jiwa-jiwa tak elok

Ku biarkan dentuman
Mengoyakkan telinga
Dipercik kebodohan
Hanya tahu tidak mengerti

Rabu, 23 April 2014

Meredam Hati

Lekukan kerinduan malam ini
Menyesuri pembulu darah
Dingin mencekik ubun-ubun
Remang ini menjulur merayap
Hati tak bertuan

Ruang kosong senyap
Dengan tangisan hati
Tak bersua
Bising elokan tawa
Diluar tanpa jiwa

Jatuhkan segumpal rindu
Tak betuan
Kotori darah merah melantai
Jiwa menerkam sanubari
Membisu sang malam

Tengah malam merunduk
Menyepi dengan sunyi
Menangisi sejuk
Meratapi jiwa membelenggu
Menari berlenggak dikekosongan

Lambaian pedih berlagak
Tertunduk menyela
Biarkan asa ini memuncak

Selasa, 15 April 2014

Lekukan sang penari

Ketika kau sedang bermanja
Menari-nari membawa mereka
Mengkepak-kepak semangatnya
Aku tertawa memandangimu
Dibibir halus membentang
Duduk terpaku dikejahuan

Kau tak berniat menarikku
Terus saja kau melambai
Membekukan aku dengan kehangatan
Aku...
Hanya sendiri melongo
Bersandar dipohon tua tak berimbun

Tak sudi kah untukku
Menyusuri dinginmu
Atau menyentuhmu saja
Tapi jangan tarik aku
Aku takut !
Bagaimana jika aku tenggelam
Padahal pundakku lemah
Tak kuat untuk mengepak

Cukup menghirupmu saja
Melambaimu dikejahuan
Dan pergi dengan hembusanmu

Minggu, 09 Maret 2014

Pak Habibie Jangkung. Kamu~

Harusnya kamu tak disini
Bersembunyi menari-nari
Disanubari tak terisi

Untuk apa kamu merekah senyummu?
Bak mentari pagi hangat
Aliran darahku memanas
Nafasku tak beraturan
Jadi, berhentilah!

Bisakah kamu sembunyi
Kehangatan senyumanmu itu
Organ tubuh nomor satuku
Berdetak memuncak
Saat kamu merekah
Pancaran dimata hatiku
Oh.. begitu sejuknya

Entahlah
Mengapa kamu begitu?
Terus saja berjalan disini
Didepan wanita tolol ini
Oh aku tahu. Aku salah
Kamu memang sibuk. Wajar saja.
Bodoh! Aku salah arti
Dasar wanita tak tahu malu
Siapa aku? Baru saja kamu kenal
Sudah berlebihan, mengulur tangan saja belum

Hai pak Habibie jangkung
Biarlah aku tenang sebentar
Hentikan senyumanmu itu
Aku tak bisa begini
Ramah tamahmu itu
Membisukan ketidak pedulian ku

Habibie jangkung
Ku harap kamu tahu
Untuk siapa kutulis kebodohan ini?
Yah kamu. Yang menyapaku
Saat kaki ini melangkah didepanmu
Untuk kamu pastikan
Apakah kamu panggil itu aku?
Kenapa kamu tak hentikan
Langkah gugupku
Tapi tak usahlah
Jantungku berdetak kencang
Hanya kamu panggil
Apalagi? Sudahlah
Aku terlalu bodoh!



Sang Gubernur

Sabtu, 08 Maret 2014

Menelan senja

Kuteguk pancaran
Hangat menyentuh kulitku
Ketika mentari pagi
Memancarkan keelokannya

Kucoba tatap hangat itu
Silau memukau, menyejukkan
Sanubari bergeming
Oleh kehangatan percikannya

Sang Angin mengusik
Ia hembus awan hitam
Menghadap Sang Mentari
Mendung
Aku kecewa

Terus saja kutunggu
Penyejuk percikan hangat itu
Sayangnya awan hitam enggan berlalu
Terus saja berdiam
Hingga aku jengkel

Seperempat hari berlalu
Masih saja mendung
Langit kemudian bersua
Hingga Sang Rahmat turun
Menyapu bumi berdebu

Kucoba hirup. Ah, pekak
Tenggorokanku menyekik
Kusimpitkan bola mata
Sekali lagi kucoba menarik nafas
Enggan saja menyejuk

Kusandarkan tubuh ini
Terus tegakkan kepala
Berpikir langit berdiam
Awan kemudian berwarna
Mataku enggan mengedip
Lihatlah! Sepercik cahaya datang
Silau menyipitkan mataku

Si Elok itu memekar kembali
Kuangkat tubuh ini
Mencoba menyentuh cahayanya
Hangat mentari di ufuk barat
Diam-diam ingin berlalu

Kucoba hentikan. Bodoh!
Siapa aku? Ia pasti akan berlalu
Menutup diri. Kemudian,
Tenggelam
Sudahlah. Kutelan saja senja 
Meski tak sehangat pagi

Malinda Aspariani

Jumat, 07 Maret 2014

Yang tak bersua

Saat aku berteriak
Dia hanya diam
Menyegarkanku dengan lembut

Saat tubuhku lelah
Kuhempaskan tubuh ini
Tak ada kesakitan
Ketenangan menghampiri

Menutup air mataku
Hingga tak ada yg tahu
Menghapus perlahan

Yah~ mungkin hanya air
Air jernih nan tenang itu
Menyejukkan AKU

Senin, 03 Maret 2014

Pria di Ufuk Barat

Bumi merunduk seraya derap langkahnya
Langkah pria jangkung itu
Senyum sumringah dihadapan khalik
Semerona matahari membenam
Di ufuk barat itu

bola mataku enggan memejam
sang mentari menyinar
Tubuhku hanyut tersinar
Dipenantian benamannya

Untuk R.A
Pria jangkung dengan kehangatan senyumannya

Jumat, 28 Februari 2014

Srigala berbulu Domba

Kau temukan aku dikegelapan malam
Saat sang rembulan enggan datang
Aku tersesat dibelantara
Aku meringis menjerit tak karuan

Ada bayangan putih ku lihat
Disudut gelap semak belukar
Kau mengendap menatapku
Aku sumringah aku tak akan mati

Kamu datang menyapaku
Mengulurkan jemarimu
Tuk kugenggam
Hatiku merekah berbinar
Pahlawan dikegelapan

Aku tak menjerit (lagi)
Tertawa lepas
Seperti hidup kembali
Saat kau rangkul pundakku
Senderkan bahumu
Aku tenang, nyaman

Hari terus berlari
Mengitari sang cakrawala
Tak menyadarkanku
Telah tersesat dibelantara
Sendiri

Sang rembulan enggan bersinar
Bintang dilangitpun perlahan lenyap
Entahlah kenapa?
Kucari kesana kemari
Kau pun ikut lenyap
Menghilang

Aku menjerit histeris
Perjalan tanpa arah
Mencarimu dikegelapan belantara
Tapi tak kudapat
Yang kulihat bukan kamu (lagi)
Tapi sang srigala dipuncak itu
Mengaung kelaparan

Berlari tanpa arah
Menjauh darimu
Mencari jalan pulang
Kau semakin mendekat
Mencengkram leherku
Hingga aku terbaring lemah

Oh kamu...
srigala berbulu domba
Kau bantu kesesatan ku
Dibelentara yg tak ku tahu
Kau ingin memakanku

Malinda. Aspariani :)