Rabu, 23 November 2011

Papa :*:*

Malam itu tepat malam minggu tanggal 20 November 2011 ,semua berjalan apa adanya. Senja udah mulai kelam dan bulanpun siap tiba. Malam ini kami sekeluarga mau nonton TIMNAS U23. Stasiun Tv ini menjengkelkan kami dan berusaha mencari yang bisa dilihat. Akhirnya, kita bisa melihat pertandingan TIMNAS melawan Vietnam dengan selesai dan tiba-tiba papa mulai merasa perutnya mulai aneh dan ga enak sama sekali. Beliau mengatakan "mungkin mau kambuh lagi." dan aku waktu itu mendapat telfon dari teman dekatku yang hampir setiap malam dia menghubungiku entah apa yang kami bicarakan tetapi itu cukup menyenangkan buat aku. Dan papa memanggilku dari luar dengan suara yang sedikit keras sehingga aku terkejut dan dengan spontanitas aku mematikan Hand phone. "Kalian ga tahu orang tua sakit, asik sendiri nanti kalo orang tua sudah mati baru tahu" kata-kata itupun keluar dari mulut papa, aku hanya diam sedikit mengeluarkan air mata.

Papa entah kenapa begitu gelisah. Kesana salah,kesitu salah, kemanapun salah. Aku tahu mungkin sakit sekali dan susah untuk menahan rasa itu. Akhirnya papa terbaring dikasur didepan Televisi dan meminta mama untuk mengambilkan obat herbal yang memang sudah disiapkan. Aku masih terbaring dikamar merasa bersalah dan akhinya berangkat dari tempat tidur untuk pergi kekamar mandi mengambil wudhu dan melaksanakan shalat isya dengan deraian air mata.

Seorang laki-laki yang sedikit sudah tua. Seperti papa kira-kira, dia melakukan sesuatu yang membuatku bingung dengan tindakannya. Aku hanya melihat dan memperhatikan dengan baik. Sepertinya dia merasakan apa yang papaku rasakan. Setelah apa yang dia lakukan papa muntah-muntah dan merasakan perutnya sakit. Kami bingung dengan apa yang papa rasakan dengan penyakitnya. Mama memberitahukan kakak untuk menanyakan kepada tetangga yang pernah terkena penyakit Usus buntu. Dan seseorang laki-laki agak sedikit gemuk dan mukanya kelihatan seram. Dia  memberitahukan kepada papa bahwa seperti ini, seperti itu jika terkena penyakit usus buntu tetapi papa mtidak meraskan hal yang sama. Waktu berjalan samapai pukul 22.40 papa masih merasakan sakit itu wajah papa sangat terlihat pucat begitu lemas. Aku sedikit merasakan ketakutan atas apa yang terjadi kepada papa. Tanpa sepengetahuan siapapun aku menangis. Aku takut apa lagi waktu akan kami berangkatkan papa ke Rumah sakit beliau mengatakan kepada tetangga yang ada dirumah dan anak-anak kakak dengan nada sedikit lemas dan "Jangan nakal lagi kalau kakek ga pulang kerumah ini, maaf kalau saya ada salah dengan kalian semua." Aku melihat papa sedikit takut dan dengan sendirinya air mataku mengalir dengan deras.

Lima detik dan jam dinding menunjukan waktu 23.20 setelah itu kakak perempuanku siap-siap bergegas untuk membawa papa pergi ke Rumah sakit, sebelumnya aku tidak diizinkan untuk ikut, tetapi tiba-tiba kakak laki-lakiku mengatakan aku untuk ikut. Saat aku menaiki mobil papa telah terbaring lemas didekapan kakak perempuanku. Mama berada didepan disamping supir dan aku berada disamping papa. Aku sungguh sedih dan tak kuat menahan air mataku melihat papa sangat lemah begitu beda seperti biasanya. Diperjalanan menuju Rumah Sakit papa selalu melafalkan nama Allah dan akupun mengikuti dengan diiringi air mata yang sulit untuk aku hentikan. Rasanya saat itu mobil yang kami kendarai sangat lambat dan membuatku merasa kesal.

Saat tiba dirumah sakit aku dan kakak perlahan mencoba keras untuk membawa papa ke Ruang UDG dengan bantuan kakak laki-lakiku dan perawat Rumah Sakit itu. Cukup lama berada ditempat itu dan semakin membuatku kesal. Apa lagi perawat yang begitu lelet melakukan hal yang aku anggap harus dengan cepat. Hampir satu jam diruangan itu. Semakin mebuatku muak dan ingin pergi apa lagi melihat papa semakin merasakan kesakitan. Aku yang sangat ketakutan hampir tidak mau menjawab pertanyaan dari siapapun. Senyumpun begitu sulit untuk keluar dari pipiku ini saat melihat papa pucat pasi seperti itu.

Entah sudah berapa banyak aku menanyakan kepada kakak perempuanku kapan papa akan dipindahkan dari tempat itu sampai kakak tak ingin lagi menjawab pertanyaanku yang sangat menjengkelkan memang. Tapi aku takut, aku resah, aku merasakan malam itu sangat membosankan. Aku benci papa berada dirumah sakit. Benci tempat itu, sangat tidak suka.

Aku lupa waktu saat itu tetapi papa telah dipindahkan dari tempat itu ke kamar Rawat Inap. Dan papa semakin merasakan kesakitan yang mungkin luar biasa buat papa. Kami bertiga menemani papa sangat khawatir. Malam dan sesampai pagi itu papa tidak bisa tidur sama sekali. Sungguh aku benci hari itu, benar sangat sedih, sangat takut. Aku hanya berdoa kepada Allah semoga papa diberikan kemudahan dan selalu diberikan kesehatan yang luar biasa

Dan hari ini, setelah empat malam berada ditempat yang mebuatku bosan. Akhirnya papa pulang kerumah yang kemarin-kemarin membuatku sangan sedih, saat pulang kerumah tanpa papa dan keluargaku yang lainnya. Tapi hari ini tidak. Terima kasih ya Allah. :)


Papa I love u :*:*

Tidak ada komentar: