Rabu, 09 Oktober 2013

Mungkin, aku terlalu berharap banyak.

Rasanya semua terjadi begitu cepat, kita berkenalan lalu tiba-tiba merasakan perasaan yang aneh. Setiap harinya berbeda, dan tak lagi sama. Kamu hadir membawa banyak perubahan dalam hari-hariku. Hitam dan putih menjadi lebih berwarna ketika kamu hadir mengisi ruang kosong dihatiku. Tak ada percakapan biasa, semuanya terjadi secara ajaib begitu saja. Entahlah, perasaan ini tumbuh melebihi batas yang kutahu.

Aku menjadi takut kehilanganmu. kamu seperti mengendalikan otak dan hatiku, ada sebab yang tak kumengerti sedikitpun. Aku sulit jauh darimu, membutuhkanmu seperti aku membutuhkan udara. Nafas ini tercekat bilaku tak melihatmu didalam pandangan mataku. Salah jika kamu kunomorsatukan?

Tapi entah mengapa sikapmu tak seperti sikapku. perhatianmu tak sedalam perhatianku. Tatapanmu tak setajam tatapanku. Ada yang salhkah diantara aku dan kamu? Apa kamu tak merasakan apa yang aku rasakan?
Kamu mungkin tak terlalu paham perasaanku, karena kamu memang tak pernah sibuk memikirkanku. Berdosakah jika aku menjatuhkan airmata ini untukmu?

Pandanglah aku yang mencintaimu dengan tulus namun kau hempaskan dengan begitu bulus. seberapa tidak pentingkah aku? Apakah aku hanya persimpangan jalan yang selalu kau abaikan juga kau tinggalkan?
Dimana letak hatimu? Aku tak bisa bicara banyak, juga tak ingin mengutarakan semua yang telah terjadi. aku tak berhak bicara cinta, jika kamu terus tulikan telinga. Aku tak bisa katakan rindu jika berkali-kali kauciptakan jarak yang semakin menjauh. Aku tak bisa apa-apa selain memandangimu dan membawa kedalam percakapan panjangku dengan Tuhan.

Aku mencintaimu yang belum tentu mencintaiku. Aku mengagumimu yang belum tentu paham dengan rasa kagumku.

Mungkin memang semua salahku. Yang menganggap semuanya berjalan sesuai keinginanku. Yang bermimpi bisa menjadikanmu lebih dari teman. Salahkan jika perasaanku berubah melebihi batas kewajaran? Aku mencintaimu tidak hanya sebagai teman. Aku mencintaimu sebagai seseorang yang bernilai dan berharga dihidupku.

Namun, semua jauh dari harapanku selama ini. Memang aku yang telah berharap banyak darimu. Akulah yang tak menyadari posisiku dan tak menyadari letakmu yang jauh dari genggaman tangan. AKulah yang bodoh. Akulah yang bersalah!

Tenanglah, tak perlu memperhatikanku lagi. Aku terbiasa tersakiti ko, apalagi penyebabnya kamu. Tidak perlu basa-basi, aku bisa sendiri. Dan, kamu pasti tak sadaar, jika aku berbohong bahwa aku bisa melupakanmu.

Menjauhlah. Aku ingin dekat-dekat dengan kesepian saja, disana lukaku terobati. disana tak kutemui orang sepertimu, yang selalu berganti topeng dengan mudahnya, dan berkata sayang dengan gampangnya.


Oleh: Lulu L Arrizqi

Tidak ada komentar: