Rabu, 02 Mei 2012

Untuk tanah airku tercinta


Bangka Belitung island

Hari ini, tepatnya siang ini saya ingin menuliskan dan mencurahkan isi hati saya tentang nasib tanah airku suatu saat nanti. Iya Bangka Belitung tanah airku, tempat aku dilahirkan dan dibesarkan, pulau yang dikelilingi oleh lautan yang sangat indah. Tanah airku tercinta ini terkenal dengan hasil tambang timah terbesar di Indonesia. Timah adalah hasil pendapatan rata-rata dari masyarakat Bangka Belitung selain dari hasil pertanian dan kelautan dan tepatnya kami yang berada dikabupaten Bangka selatan atau Toboali. 

Kenapa sebelumnya saya mengatakan saya ingin menulis tentang nasib pulau kami tercinta ini, semua ini dikarenakan sekarang telah banyaknya kapal kerok atau kapal isap yang beroperas dikawasan pulau Bangka ini. Saya pikir kapal isap yang telah banyak dipulau Bangka ini berbahaya untuk ekosistem laut Bangka. Kapal isap yang begitu besar menurut saya kekuatannya untuk mengambil timah yang ada didalam laut begitu banyak. Saya heran kenapa pemerintah Bangka sepertinya tidak khawatir dengan kapal isap yang suatu saat akan merusak pulau kami yang indah ini, akan merusak lautan kami yang begitu luar biasanya. Dibuktikan dari semakin semaraknya kapal isap yang beroperasi. Dan semakin kotor pula lautan kami oleh perbuatan kapal isap tersebut.
Tempat wisata Bangka yang banyak menarik daerah kelautan itu sangat tidak terlihat cantik lagi pemandangan lautnya. 

Warna laut yang dulu hijau kebiru-biruan sekarang menjadi warna kecokelatan. Yang lebih membuat saya heran adalah, kapal isap didominasikan pemiliknya adalah orang dari luar Bangka bahkan bukan orang Indonesia tepatnya orang luar negeri. Sedangkan TI apung yang dioperasikan oleh orang Bangka asli malah dilarang untuk beroperasi. TI apung dikatakan merusak keindahan lautan dan ekosistem yang ada didalamnya! Tetapi, apa kabar dengan kapal isap yang banyak beroperasi itu yang tenaga isapnya begitu dalam untuk menyedot timah yang ada didalam laut itu sedangkan TI apung yang ukurannya lebih kecil dari kapal isap itu malah dipermasakan untuk bergerak. 

Saya lebih setuju dengan beroperasinya TI apung ketimbang kapal isap apalagi pemiliknya adalah orang luar negeri itu. Memang keduanya sama-sama merusak laut Bangka, tapi mungkin lebih baik kapal isap yang banyak beroperasi itu dihentikan dan mungkin berikan batasan untuk TI apung yang ingin beroperasi didaerah lautan dan berapa boleh TI apung itu beroperasi.  Misalkan: TI apung boleh beroperasi dengan batasan jumlah sekian TI apung dan wilayah yang dioperasi ditunjukan tempat yang memang boleh diproduksi, dan hasil produksi timah tersebut digunakan untuk membangun atau melestarikan kembali pulau Bangka. Jika kapal isap tetap beroperasi lebih banyak lagi saya tidak bisa berpikir lagi. Kapal isap yang besar itu malah semakin banyak, bagaimana nasib dengan pulau Bangka Belitung ini. 

Provinsi Bangka Belitung ini tidak besar jadi coba kalian yang ada gedung megah itu pikir seperti apa jadinya nanti pulau Bangka ini?? Kapal isap yang menyedot tanah yang ada dilautan kita, apa yang akan terjadi nanti? Tidakkah kalian berpikir suatu saat nanti pulau yang indah ini akan tenggelam, akan hilang. Sekarang memang tidak! Belum, tapi nanti jika kapal isap itu semakin merajalela pulau Bangka ini mungkin tidak akan ada lagi. Suatu saat Indonesia akan kehilangan satu provinsinya. Saya memang masih seorang pelajar, saya masih anak ingusan, tapi saya peduli dengan nasib pulau saya dan masyarakat Bangka Belitung, karena apa? Karena saya tidak ingin tanah airku, tempat kelahiranku suatu saat hilang tenggelam oleh lautan. Tidak
entah kenapa saya menulis seperti ini, saya tidak tahu, sama sakali! tapi yang pastinya saya hanya ingin mencurhakan apa yang saya rasakan dan apa yang saya lihat. trims

Malinda aspariani :D 

Tidak ada komentar: