Bangka Belitung
island
Hari ini, tepatnya siang ini saya ingin menuliskan dan
mencurahkan isi hati saya tentang nasib tanah airku suatu saat nanti. Iya
Bangka Belitung tanah airku, tempat aku dilahirkan dan dibesarkan, pulau yang
dikelilingi oleh lautan yang sangat indah. Tanah airku tercinta ini terkenal
dengan hasil tambang timah terbesar di Indonesia. Timah adalah hasil pendapatan
rata-rata dari masyarakat Bangka Belitung selain dari hasil pertanian dan
kelautan dan tepatnya kami yang berada dikabupaten Bangka selatan atau Toboali.
Kenapa sebelumnya saya mengatakan saya ingin menulis tentang
nasib pulau kami tercinta ini, semua ini dikarenakan sekarang telah banyaknya
kapal kerok atau kapal isap yang beroperas dikawasan pulau Bangka ini. Saya
pikir kapal isap yang telah banyak dipulau Bangka ini berbahaya untuk ekosistem
laut Bangka. Kapal isap yang begitu besar menurut saya kekuatannya untuk
mengambil timah yang ada didalam laut begitu banyak. Saya heran kenapa
pemerintah Bangka sepertinya tidak khawatir dengan kapal isap yang suatu saat
akan merusak pulau kami yang indah ini, akan merusak lautan kami yang begitu
luar biasanya. Dibuktikan dari semakin semaraknya kapal isap yang beroperasi.
Dan semakin kotor pula lautan kami oleh perbuatan kapal isap tersebut.
Tempat wisata Bangka yang banyak menarik daerah kelautan itu
sangat tidak terlihat cantik lagi pemandangan lautnya.
Warna laut yang dulu
hijau kebiru-biruan sekarang menjadi warna kecokelatan. Yang lebih membuat saya
heran adalah, kapal isap didominasikan pemiliknya adalah orang dari luar Bangka
bahkan bukan orang Indonesia tepatnya orang luar negeri. Sedangkan TI apung
yang dioperasikan oleh orang Bangka asli malah dilarang untuk beroperasi. TI
apung dikatakan merusak keindahan lautan dan ekosistem yang ada didalamnya!
Tetapi, apa kabar dengan kapal isap yang banyak beroperasi itu yang tenaga
isapnya begitu dalam untuk menyedot timah yang ada didalam laut itu sedangkan
TI apung yang ukurannya lebih kecil dari kapal isap itu malah dipermasakan untuk
bergerak.
Saya lebih setuju dengan beroperasinya TI apung ketimbang
kapal isap apalagi pemiliknya adalah orang luar negeri itu. Memang keduanya
sama-sama merusak laut Bangka, tapi mungkin lebih baik kapal isap yang banyak
beroperasi itu dihentikan dan mungkin berikan batasan untuk TI apung yang ingin
beroperasi didaerah lautan dan berapa boleh TI apung itu beroperasi. Misalkan: TI apung boleh beroperasi dengan
batasan jumlah sekian TI apung dan wilayah yang dioperasi ditunjukan tempat
yang memang boleh diproduksi, dan hasil produksi timah tersebut digunakan untuk
membangun atau melestarikan kembali pulau Bangka. Jika kapal isap tetap
beroperasi lebih banyak lagi saya tidak bisa berpikir lagi. Kapal isap yang
besar itu malah semakin banyak, bagaimana nasib dengan pulau Bangka Belitung
ini.
Provinsi Bangka Belitung ini tidak besar jadi coba kalian
yang ada gedung megah itu pikir seperti apa jadinya nanti pulau Bangka ini??
Kapal isap yang menyedot tanah yang ada dilautan kita, apa yang akan terjadi
nanti? Tidakkah kalian berpikir suatu saat nanti pulau yang indah ini akan
tenggelam, akan hilang. Sekarang memang tidak! Belum, tapi nanti jika kapal
isap itu semakin merajalela pulau Bangka ini mungkin tidak akan ada lagi. Suatu
saat Indonesia akan kehilangan satu provinsinya. Saya memang masih seorang
pelajar, saya masih anak ingusan, tapi saya peduli dengan nasib pulau saya dan
masyarakat Bangka Belitung, karena apa? Karena saya tidak ingin tanah airku,
tempat kelahiranku suatu saat hilang tenggelam oleh lautan. Tidak
entah kenapa saya menulis seperti ini, saya tidak tahu, sama sakali! tapi yang pastinya saya hanya ingin mencurhakan apa yang saya rasakan dan apa yang saya lihat. trims
Malinda aspariani :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar